Menuju Sinjai RAMAH (Bagian 28)

Viral!!!.Ibu pedagang Pasar Sentral Sinjai menangis saat lapaknya dibngkar SatPol PP. Mengaku besakan 6 anak dari hasi dagang (Berita News).

Ekonomi Sinjai Pasca Ramadhan. Apa Kareba TPID Sinjai

Editor: Nurzaman Razaq

SINJAI,PEMBELANES.COM –  RAMADHAN bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga juga peristiwa ekonomi tahunan yang memiliki daya dorong luar biasa terhadap konsumsi.

Ramadhan selalu menghadirkan denyut yang berbeda dalam kehidupan ekonomi nasional hingga daerah. Dalam periode ini, ritme ekonomi bergerak lebih cepat. Pusat perbelanjaan dipenuhi masyarakat, pasar tradisional hidup hingga larut malam, dan jalur-jalur transportasi dipadati arus mudik yang mengalir dari kota ke desa.

Namun, seperti gelombang yang mencapai puncaknya, euforia tersebut tidak berlangsung lama. Selepas Idul Fitri, ekonomi memasuki fase yang lebih tenang atau bahkan dalam banyak kasus, ekonomi cenderung melambat.

Konsumsi mulai menurun, aktivitas usaha kembali normal, dan daya beli masyarakat mengalami penyesuaian. Pada tahun ini, fase tersebut menjadi jauh lebih kompleks karena berlangsung di tengah ketidakpastian global yang meningkat, terutama akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Muhammad Nur Rianto, Dosen dan Peneliti Al Arif ,dosen dan peneliti di UIN Syarif Hidayatullah dan CSEAS Indonesia dalam tulusannya di Kompas.com, 24/03/2026 mencontohkan, dalam konteks ini, ekonomi Indonesia pasca-Ramadhan tidak lagi sekadar berbicara tentang siklus musiman, tetapi juga tentang bagaimana daya tahan ekonomi nasional diuji oleh tekanan eksternal yang semakin kuat.

Ramadhan dan Idul Fitri tetap menjadi motor utama konsumsi domestik. Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini berarti setiap peningkatan konsumsi akan langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Lantas bagaimaa sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai memandang konteks tersebut?

Upaya yang diharapan oleh Pemkab Sinjai adalah, berupaya meakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi rakyat. Mengingat peningkatan yang tinggi selama periode tersebut berpotensi memicy inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.

Berdasarkan situasi terkini, upaya Pemkab Sinjai menjaga stabiitas pasca Ramdhan/Idul Fitri sedikitnya meliputi, penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), agar tetap memantau harga barang kebutuhan pokok (sembako) agar tidak bergejolak tinggi pasca lebaran Idul Fitri.

Meskipun lebaran Idul Fitri telah usai, pemerintah daerah diharapkan mengoptimalkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Operasi Pasar untuk memasrikan harga pangan, terutama beras, daging, dan cabai, kembali stabil.

GPM jangan hanya dilaksanakan jelang Ramadhan, saat Ramadhan dan jelang Idul Fitri saja. Optimalisai Bansos dan semabako terus digalakkan  dengan menyalurkan berbagai stimulus, termasuk bantuan pangan bagi keluarga rentan, untuk menjaga daya beli masyarakat pasca puncak komsumsi lebaran Idul Fitri.

Yang tak kalah pentingnya adalah, pemerintah daerah menggalakkan monitorting stok pangan untuk memastikan stok bahan pokok di Sinjai tetap aman dan melakukan pemetaan wilayah surplus serta defisit guna memperlancar distribusi pangan.

Upaya-upaya ini bertujuan memastikan momentum pertumbuhan ekonmi kuartal 1 2026, yang diproyeksikan bisa bertumbuh berkat konsumsi lebaran tetap terjaga dan tidak berbalik menjadi penurunan daya bei yang drastis.

Pemkab Sinjai, tentunya tidak diharapkan hanya berfokus pada pembongkaran lapak-lapak di Pasar yang terkesan ;pilih kasih, yang  justru bisa memicu ekonomi rakyat tumpul tak bertaji. Tanpa mencari solusi untuk kepentingan pedagang kecil yang hanya untuk mencari hidup. Minal Aidin Wal-faizin-Mohon Maaf Lahir dan batin.(Dari sumber lain)