Perspektif Jurnalis terhadap Malam Lailatul Qadar
MAKASSAR,PEMBELANEWS.COM – Momen Malam Nuzul Qur’an, merupakan peristiwa turunnya wahyu pertama A-Qur’an sebagaimana yang disebutkan pada surah Al-Alaq 1-5 kepada Nabi Muhammad SAW meaui Malaikan Jibril di Gua Hira.
Memperingati Malam Nuzul Qur’an pada umumnya pada malam 17 Ramadhan yang menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, pembeda hak dan batil,serta Rahmat bagi semensta alam.
Banyak pengamat, ulama dan cendikia muslim memberi ragam pandangannya terhadap keistimewaan Malam Nuzul Qur’an. Lantas bagaimana dengan perspektif jurnalis terhadap Malam Nuzul Qur;an.
Dari perspektif jurnalis terhadap Malam Nuzul Qur’an, khususnya di Indonesia dipandang sebagai momen dari dua sisi yang saling melengkapi, sebagai sebuah peristiwa ibadah spritual (subjek berita) dan momen peningkatan literasi sertarefleksi moral (ojek pemberitaan).
Dipandang sebagai momen refleksi dan lterasi, jurnalis memandang Nuzul Qur’an bukansekadar seremonial 17 Ramadhan, melainkan pengigat petiingnya membaca, memahami,dan mengamankan A Qur’an (konsep iqra’). Media pers sering mengangkattema tentang “kembali ke Al Qur’an dan menjadikan wahyu pertama sebagai inspirasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam pandangan jurnalistik Islam, ( dalam penyebaran pesan moral), Malam Nuzul Qur’an adalah momen untuk menyebarkan nilai-niai Rahat, kejujuran, keadilan, dan moderasi (wasathiyah) yang terkandung dalam Al’Qur’an, dan kegiatan sosialsebagaiupaya meningkatkan spiritualitas masyarakat.
Sementara pada sisi liputan agenda keagamaan dan sosial (hard news), jurnalis meliput acara peringatan Nuzul Qur’an di masjid, instansi pemerintah, sebagai berita faktual. Hal ini mencakup tausiah, khataman Al Qur’an, dan kegiatan sosialsebagaiupaya meningkatkan spirtiualitas masyarakat.
Jika dilihat dari refleksi diri (jurnalisme humanis), Nuzul Qur’an dipandang sebagai momen untuk ntropeksi diri (muhasabah) ditengah padatnya arus informasi, menekankan pesan agar Al Quran menjadi cahaya kehidupanditengah dinamika sosial.
Singkatnya, jurnalis melihat Malam Nuzul Qur’an sebagai kesempatan untuk memproduksi konten yang menyejukkan, edukatif, dan spitual, yang sejalan dengan fungsi pers untuk mencerdaskan masyarakat.(*).






