Ketika Fenomena klasik tahunan, Menormalisasi Siklus Inflasi Musiman.
SINJAI,PEMBELANEWS.COM- Menjelang Ramadan 2026, kekhawatiran terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok kembali mencuat. Namun kali ini, persoalannya tidak sesederhana siklus inflasi musiman.
Penurunan daya beli masyarakat dan menipisnya tabungan kelas menengah menjadi alarm serius bagi ketahanan ekonomi domestik.
Pengamat Pemerintahan pun menilai situasi saat ini menempatkan kelas menengah dalam posisi paradoksal.
Selama ini mereka menjadi penyangga konsumsi nasional, tetapi kini justru masuk kategori kelompok rentan yang kerap luput dari skema perlindungan sosial.
“Kita menghadapi tiga tekanan sekaligus: inflasi musiman Ramadan, penurunan daya beli, dan tabungan kelas menengah yang terkikis. Mereka tidak masuk kategori penerima bansos, tetapi daya tahannya terhadap kenaikan harga sangat lemah
Tekanan ini semakin berat menjelang Ramadan, karena beban pengeluaran meningkat mulai dari kebutuhan THR, mudik, hingga persiapan Lebaran tanpa diimbangi kenaikan pendapatan. Kondisi tersebut memperbesar risiko kontraksi konsumsi, yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
Akbar menilai berulangnya lonjakan harga setiap Ramadan mencerminkan kegagalan struktural dalam tata kelola pangan. Rantai distribusi yang panjang dan tidak efisien membuat harga di tingkat konsumen melonjak hingga berlipat dari harga di petani.
Di sisi lain, praktik oligopoli pada sejumlah komoditas strategis mempersempit ruang kompetisi dan memberi ruang bagi penentuan harga sepihak saat permintaan meningkat.
Masalah lain terletak pada lemahnya koordinasi lintasorganisasi perangkat daerah. Kebijakan pangan berjalan sektoral: produksi, distribusi, stabilisasi harga, dan bantuan sosial bergerak sendiri-sendiri tanpa orkestrasi yang solid. Akibatnya, intervensi pemerintah cenderung reaktif, hadir setelah harga terlanjur naik.
Lantas bagaimana dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai yang berslogan “Mariki Sama-Sama Membangun Sinjai”
Meski mengapresiasi operasi pasar dan pengamanan stok, Akbar menilai kebijakan tersebut belum menyentuh akar persoalan.
Ia mendorong reformasi struktural, mulai dari pemangkasan rantai distribusi, penguatan peran negara melalui lembaga penyangga, hingga penegakan hukum anti-oligopol
Jika krisis Ramadan terus berulang, itu bukan lagi soal musiman, melainkan bukti sistem pangan kita bermasalah. Ramadan 2026 seharusnya jadi momentum pembenahan, bukan sekadar bertahan,” pungkasnya
Brdasarkan pantauan situasi menjelangIdul Fitri 2026(diprediksijatuh pada tanggal 20 maret 2026), pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Sinjai menghadapi tantangan yang harus dihadapi.
Pemkab Sinjai yang berslogan Masyarakat Sinjai yang Maju, Sejahtera, Mandiri, dan Berkeadilan,” yang diakronimkan menjadi “SAMA-SAMAKI” itu lebih memandang fenomena berdasarkan hati ketimbang dari pernyataan yang bersifat simbolik harapan yang tak kunjung terselesaikan.
Mengantisipasi inlasi dan lonjakan harga pangan, yang tentunta perlunya pemerintah daerah mengantisipasi panic buying dan lonjakan harga pangan terjadi akibat fenomena tahunan peningkatan konsumsi.
Tantangan lain pemeritah daerah, dituntut untuk memastikan distribusi lancar hingga ke pasar tradisioal untuk mencegah kenaikan harga bahan pokok, terutama beras, dagung, dan cabai.(*).






