SINJAI,PEMBELANEWS.COM – sorotan terhadap Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sanjai, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai yang menyajikan menu yang tak layak konsumsi bagi sekolah penerima manfaat, tentu perlu mendapat perhatian seius dari pemerintah daerah.
Pasalnya, Kepala SPPG sekaligus penanggung jawab Dapur MBG Sanjai, Muhaimin, berasalan penyebab menu yang disajikan berbau, karena faktor jarak dari SPPG ke penerima manfaat, kondisi jalan yang rusak, jauh pengantaran dan jalan yang terjal.
Artinya, alasan yang disampaikan Muhaimin itu, tentu tetap akan menjadi kekhawatiran akan terjadinya menu yang berbau pada kesempatan lain. Hal tidak mungkin bisa terjadi perubahan pada faktor jarak, kondisi jalan yang rusak, dan jauh pengantaran dan jalan yang terjal.
Seperti berita yang lagi viral hari ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi oleh Dapur MBG Sanjai, Desa Sanjai, menuai keluhan dari pihak sekolah penerima manfaat.
Menu makanan yang disajikan dinilai kering, kurang menggugah selera, dan disajikan secara ala kadarnya sehingga tidak diminati oleh sebagian siswa.
Keluhan tersebut disampaikan oleh salah satu tenaga pendidik yang enggan disebutkan namanya. Menu tersebut dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan gizi siswa, khususnya anak usia sekolah dasar
menu MBG yang diterima siswa, Kamis (29/01/2026) terutama berbahan dasar mie, sering kali disajikan tanpa kuah yang cukup sehingga terasa kering saat dikonsumsi
Sorotan terhadap Dapur MBG Sanjai semakin menguat setelah beredarnya dokumentasi menu makanan yang diterima siswa.
SOP Yang Harus Dipatuhi SPPG
Terkait untuk menghindari makanan MBG tidak berbau dan cepat busuk, tentunya pihak pengelola Dapur MBG Sanjai dan pihak SPPG sekaligus penanggung jawab Dapur MBG Sanjai, tentu memerlukan perhatian khusus pada higienitas, suhu, dan cara penyimpanan.
Makanan yang busuk dan cepat basi biasanya disebabkan oleh pertumbuhan mikroba akibat penyimpanan yang tidak tepat.
Kunci keberhasilan adalah disiplin dalam setiap proses penyajian makanan, yang difokuskan dalam memastikan critical control point-nya terjaga dengan baik. Angka kecukupan gizinya terpenuhi, begitu juga dengan kualitas bahan baku, penyimpanan, dan SOP yang harus dipatuhi seluruh pekerja SPPG
Proses tersebut meliputi pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan makanan, pendinginan, pengemasan, hingga memastikan makanan sarat nutrisi sampai ke meja penerima manfaat.
Seharunya alur tata kelola SPPG yang harus dipatuhi, yakni dimulai pemilihan kualitas bahan baku dari suplayer yang terlebih dahulu dilakukan pengecekan oleh ahli gizi. Misal daging ayam dan sayuran harus segar.
Persoalannya, bukan karena faktor jarak dari SPPG ke penerima manfaat, kondisi jalan yang rusak, jauh pengantaran dan jalan yang terjal. Kejadian di Sanjai, pembelajaran bagi Dapur MBG di desa lain. Kejadiannya saat ini, tak layak konsumsi, lantas hal yang dikhawatirkan kalau siswa keracunan.?? (*).






