PEMBELANEWS.COM – Eskalasi di perbatasan utara Israel dan Lebanon, menelain korban jiwa tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nation Interim Force In Lebanon (UNIFIL), Senin (31/03/2026) lalu.
Ketiganya gugur di tengah meningkatknya intensitas konflik antara Israel dan Hezbollah. Duka ini bukan hanya milik keluarga besar TNI, tetapi juga bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Gugurnya ketiga prajurit terbai bangsa ini, juga disertai lima lainnya menderita luka-luka akibat serangkaian insiden mematikan di Lebanon Selatan.
Aji Cahyono dosen kajian Pancasila, Studi Islam, Politik Luar Negeri Indonesia dan Isu Geopolitik Timur Tengah dalam tulisannya menyebut, mereka tidak gugur di medan perang sebagai kombatan yang saling memburu, melainkan sebagai perisai kemanusiaan yang bertugas sebagai penjaga perdamaian yang berdiri di tengah silang sengketa antara kekuatan militer Israel dan milisi Hezbollah.
Lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus Founder Indonesian Coexistence.ini menambahkan, tragedi ini menambah daftar jumlah statistik korban jiwa atau laporan militer rutin.
Ketika darah prajurit yang mengenakan baret biru PBB dan emblem Merah Putih di lengan kirinya tumpah di tanah asing, hal itu secara langsung menyentuh urat nadi martabat kita sebagai sebuah negara.
Indonesia Patut Tanggung Resiko ?
Mengutip Kompas.com, (3/4), Pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyampaikan kecaman keras atas serangan tersebut. Namun di dalam negeri, muncul desakan agar pasukan segera ditarik demi alasan keselamatan.
Narasi ini tampak empatik, tetapi berpotensi menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Keberadaan TNI di Lebanon bukan sekedar simbol kehadira di bawah bendera biru. Mereka di tempatkan di kawasan sensitif trmasuk sekitar )Blue Line” yang menjadi titik rawan benturan langsung. Dalam konteks ini, indonesia adalah bagia dari mekanisme penyangga yang nyata, bukan sekedar pelengkap dipslomasi.
Namun di balik itu, muncul pertanyaan publik, “mengapa tidaki membalas”. Hal ini patut dicermati pada kerangka ini dengan jawaban atas pertanyaan itu, pasukan TNI hadir sebagai pejaga perdamaian untuk meredam konflik, bukan memperluas konflik.
Sangat Prematur
Israel dalam menanggapi insidein gugurnya ketiga dan kelima prajurit TNI yang mengalami luka, menyatakan telah membuka penyelidikan atas dua kejadian berbeda yang menewaskan tiga prajurit Indonesia.M
Militer Israel menyebut pihaknya masih meninjau secara menyeluruh untuk menentukan penyebab insiden, demikian pernyataan militer Israel yang dipublikasikan melalui akun Telegram resminya, dikutip Rabu (1/4).
Pihak Israel juga menegaskan, insiden terjadi di wilayah pertempuran aktif, tempat pasukannya tengah melakukan operasi terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Oleh karena itu, mereka menyatakan tidak dapat langsung diasumsikan bahwa insiden yang menimpa pasukan UNIFIL disebabkan oleh pihak Israel.
Di sisi lain, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, secara terbuka menuding kelompok Hezbollah sebagai pihak yang bertanggung jawab. Ia menyatakan Hizbullah kerap meluncurkan roket dari area permukiman yang berdekatan dengan posisi pasukan PBB, sehingga meningkatkan risiko terhadap penjaga perdamaian.
Namun, pandangan tersebut mendapat kritik dari Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. Ia menilai pernyataan Israel terlalu dini, mengingat proses investigasi oleh UNIFIL belum dilakukan.
Pernyataan tersebut justru menimbulkan kesan bahwa Israel berupaya menutup kemungkinan keterlibatannya sejak awal. “Pernyataan ini sangat prematur mengingat penyelidikan baru akan dilakukan oleh UNIFIL,” ujarnya kepada Hukumonline, Rabu (1/4).
Yang diharapkan kini, UNIFIL dan Dewan Keamanan PBB segera melakukan investigasi menyeluruh serta memastikan protokol keamanan ditingkatkan secara signifikan bagi seluruh pasukan di lapangan.(*).






