SINJAI,PEMBELANEWS.COM – Semangat pengabdian masyarakat diimplementasikan dalam aksi nyata oleh sekelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Angkatan 114 Unhas di Desa Saotengnga,Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai.
Salah satu mahasiswi KKT Unhas, Gabryella Natalie Rante Silolo, mahasiswa jurusan Tehnik Sipil Unhas, mengamplikasikan pembuatan alat penabur pupuk menggunakan pipa PVC.
Program inovatif yang dibuat Gabryella Natalie ini, merupakan alat penabur pupuk yang tidak hanya praktis tetapi juga memberikan solusi bagi petani lokal.

Program pengabdian masyarakat ini bermula dari obsrvasi yang dilakukan bersama 5 orang sekelompoknya, terhadap kebutuhan petani di Desa Saotengnga, khususnya yang terkait dengan budidaya beragam.tanaman pertanian dan perkebunan, lahan pertanian terbuka, kebun pekarangan rumah tangga yang pada dasarnya alat ini hanya bisa digunakan pada jenis tanaman yang memiliki kepadatan tanah cendrung lunak ke padat.
Gabryella mengambil peran aktif dalam proses perancangan alat penabur pupuk inovatif ini, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pertanian di desa tersebut, seperti diantaranya, tanaman pangan seperti jagung, tanaman hortikultura seperti sahyuran dan buah-buahan, tanaman perkebunan seperti kopi dan kakao, dan tanaman umbi-umbian.
Bahan Alat Penabur
Bahan utama dari alat ini adalah pipa PVC yang ringan dan tahan lama, jelas Gabry, dipilih dengan pertimbangan ketersediaan lokal dan keandalannya. Penggunaan bahan tersebut sejalan dengan semangat yang mengedepankan pemanfaatan sumber daya lokal dalam pengembangan teknologi

Ditambahkan, desain alat penabur pupuk yang sederhana namun efektif mencerminkan pemikiran kreatif dan kesederhanaan sebagai kunci kesuksesan. Kami tidak hanya menciptakan alat yang dapat digunakan dengan mudah, tetapi juga memberikan pelatihan kepada petani setempat tentang cara penggunaan yang optimal. Hal ini menjadi langkah penting dalam memastikan adopsi yang luas dan manfaat maksimal dari inovasi yang dihasilkan.
Keunggulan utama dari alat ini terletak pada kemudahan penggunaannya. Petani tidak lagi perlu membawa timba atau membungkuk untuk menaburkan pupuk di dekat akar tanaman. Dengan alat ini, proses pemupukan menjadi lebih efisien, menghemat waktu, tenaga, dan mengurangi risiko cedera fisik

Sementara dari segi manfaatnya, jelas Gabryella menambahkan, biaya pembuatan murah karena menggunakan pipa PVC sebagai bahan utama, alat penabur pupuk dapat mengefiensi waktu dan tenaga, cocok untuk lahan luas dan sempit serta tahan terhadap korosi.
Namun, manfaat alat penabur pupuk ini tidak hanya terlihat dari segi efisiensi, melainkan juga dari sisi kenyamanan bagi petani. Kontak langsung dengan pupuk kimia yang seringkali menyebabkan sensasi grisihen (panas dan perih) di telapak tangan dapat diminimalkan, memberikan perlindungan kepada petani selama aktivitas pertanian.
Gabryella Natalie Rante Silolo berharap, dengan persembahan alat penabur pupuk ini, bisa dimanfaatkan bagi pata petani di Desa Saotengnga.(cea)






