Penulis: Nurzaman Razaq (Mantan Wakil Ketua PWI Sulsel Periode 2007-2012)
SINJAI,PEMBELANEWS.COM – Kepengurusan H.Agussalami Alwi Hamu yang menahkodai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan masa bakti periode 2021-2026 telah berakhir. Dengan begitu, Juni 2026 mendatang,Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel akan dihelat, untuk memilih kepengurusan masa bakti 2026-2031.
Dalam sepekan terakhir ini, bermunculan tiga calon kandidat Ketua PWI Sulsel yang bakal meramaikan kontestasi tersebut, masing-masing, H.Suwardi Thahir (Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulsel periode 2021-2026 sekaligus Penguji pada Lembaga Uji PWI), H. Manaf Rahman (Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Sulsel periode sebelumnya) dan juga sebagai Sekretaris OC Konferensi PWI Sulsel, kemudian, Amrullah Basri Gani, Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Fajar.
Menitip Harapan.
Terkait dengan perhelatan memunculkan figur Ketua PWI Sulsel di Konferensi mendatang, tanpa menafikan harapan sejumlah kalangan, PWI Sulsel sebagai organisasi profesi wartawan tertua dan pertama di Indonesia,pada periode kepengurusan 2026-2031, jika Suhardi Thahir terpilih sebagai Ketua PWI Sulsel untuk periode mendatang, diharapkan menjadikan PWI Sulsel kembali fokus pada penguatan profesionalisme, integritas dan adaptasi terhadap tehnologi.
Pengamatan selama pada dua periode kepengurusan sebelumnya, PWI Sulsel dalam pengendalian kepengurusannya, memperlihatkan kelemahannya pada upaya penguatan profesionalisme, integritas dan adaptasi terhadap tehnologi.
Penguatan profesionalisme yang dimaksud, adalah serangkaian upaya sistematis untuk meningkatkan kompetensi, integritas, dan ketaatan insan pers (wartawan dan perusahaan pers) terhadap kode etik jurnalistik serta aturan hukum yang berlaku.
Pengimplementasian program terhadap penguatan profesionalisme pada periode-periode sebelumnya, tidak begitu signifikan. Dan hampir dibilang tidak ada program yang mengarah kepada penguatan profesionalisme khususnya pada komponen pengurus dan anggota di daerah.
Suhardi Thahir yang dikenal sebagai salah seorang senior yang sejak pengurus PWI Sulsel periode 2016–2021 hingga 2021–2026, serta menjabat Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulsel, perlunya membangun kembali Integritas PWI Sulsel, sebagai fondasi membangkitkan kepercayaan publik,Hal mana seiring dengan bermunculannya sejumlah organisasi profesi wartawan dan media pers, PWI Sulsel terkesan “tenggelam” di tengah adaptasi tehnologi digital.
Dengan demikian PWI Sulsel kedepannya harus menjadi organisasi profesi yang berwibawa. menawarkan harapan baru di masa yang akan datang di bawah nahkoda pemimpin yang memiliki flag carrier pada media mainstream.
Olehnya itu, Suhardi Thahir salah satu figur yang dikenal aktif mendorong profesionalisme dan standar kompetensi jurnalistik di Indonesia.yang diharapkan menahkodai PWI Sulsel mendatang, dapat membawa secara cepat adaptasi PWI menuju digitalisasi.Termasuk transparansi keuangan yang selama ini sangat krusial untuk menjaga integritas, kepercayaan anggota, dan reputasi organisasi di mata publik.
Dimana sebagai organisasi profesi yang menjunjung tinggi etika, keterbukaan pengelolaan dana—baik dari iuran anggota maupun bantuan pihak ketiga, adalah kewajiban untuk dicegah penyalahgunaanya.
Perlunya Reposisi.
Di kalangann anggota PWI, tentu tidak menginginkan PWI kehilangan jati diri, kehilangan wibawa, tidak lagi ada penghargaan dari komponen negara, tak ada lagi pemikiran cemerlang dari wartawan yang layak dipertimbangkan pemerintah jadi variabel ketika mengambil keputusan.
Melihat kondisi demikian, maka mereposisi organisasi perlu dipertimbangkan jadi program utama/prioritas pengurus PWI Periode 2026-2031, Suhardi Thahir yang kini diunggulkan sebagai Ketua PWI Sulsel periode mendatang, diharapkan melakukan reposisi organisasi secara menyeluruh baik dari segi manajemen keorganisasian, keanggotaan,dan keuangan organisasi , yang dapat diartikan mengembalikan posisi organisasi ke tujuan awal dibentuknya.
Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk pada 9 Februari 1946 di Surakarta sebagai wadah perjuangan wartawan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia dari upaya penjajahan kembali, serta untuk membangun pers yang profesional dan bermartabat.
PWI lahir dari semangat kebangsaan pasca-proklamasi kemerdekaan dan berfungsi sebagai tempat menyuarakan aspirasi rakyat serta memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi.
Dalam konteks kekinian, anggota PWI seharusnya berada di garda terdepan dengan memperbanyak kegiatannya yang memberi kontribusi melalui anggotanya, agar terbangun Pers yang Profesional, Independen, dan Bermartabat.
Memperbanyak kegiatan yang hasilnya bisa diserahkan kepada pemerintah dalam memajukan bangsa. Menyuarakan aspirasi rakyat/masyarakat melalui tulisan tanpa rasa takut, dan memperkuat kembali posisi Pers sebagai Pilar Demokrasi.(*).






