Mesin Partai Dipanaskan, Politik Sulsel Masuk Babak Baru

Partai Politik di Sulsel Mulai Konsolidasi Hadapi 2026 dan Kontestasi 2029
Partai Politik di Sulsel Mulai Konsolidasi Hadapi 2026 dan Kontestasi 2029 (karikatur by Rakyat Sulsel)

MAKASSAR, PEMBELANEWS.COM – Memasuki tahun 2026, partai-partai politik di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan, mulai melakukan pembenahan internal sembari menanti arah kebijakan revisi Undang-Undang Pemilu yang tengah digodok pemerintah dan DPR.

Di tengah belum pastinya regulasi pemilu, konsolidasi internal menjadi pilihan utama partai politik guna menjaga soliditas organisasi dan kesiapan menghadapi dinamika politik nasional maupun daerah ke depan.

Konsolidasi Partai Jelang 2029

Sejumlah partai mulai mengagendakan kegiatan kepartaian sejak Januari 2026 sebagai bagian dari persiapan menuju kontestasi politik 2029. Di Sulsel, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi dua partai yang tengah mematangkan struktur kepengurusan tingkat provinsi.

PKB Sulsel saat ini masih menunggu keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) terkait penunjukan ketua DPW untuk lima tahun ke depan. Sejumlah nama disebut telah diajukan dan kini berada di meja Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, di antaranya Azhar Arsyad, Syamsu Rizal, Fadillah Fakhriana, Zulfikar Limolang, dan Muhammad Haekal.

Sementara itu, PPP Sulsel menargetkan perampungan struktur kepengurusan pada pekan pertama Januari 2026.

“Kami diberi waktu 20 hari oleh DPP untuk menyiapkan seluruh nama pengurus. Saat ini kami juga meminta kesediaan satu per satu calon pengurus dan majelis,” ujar salah satu Formatur DPW PPP Sulsel, Ilham Ari Fauzi.

PPP Sulsel Batasi Struktur Harian

PPP Sulsel sebelumnya telah menuntaskan Musyawarah Wilayah (Muswil) DPW pada 22 Desember 2025. Tujuh orang ditunjuk sebagai formatur untuk menyusun kepengurusan, terdiri dari unsur DPW, DPC, serta perwakilan DPP.

Ilham menyebut, struktur kepengurusan harian akan dibatasi maksimal 35 orang.

“Kami maksimalkan hanya 35 pengurus harian yang masuk struktur,” katanya.

Terkait proyeksi politik 2026, Ilham belum bersedia memberikan penilaian lebih jauh dan memilih fokus menyelesaikan tugas sebagai formatur hingga penetapan Ketua DPW PPP Sulsel oleh DPP.

Golkar Sulsel Bersiap Gelar Musda

Berbeda dengan PKB dan PPP, Partai Golkar Sulsel baru akan menggelar Musyawarah Daerah (Musda) pada pekan ketiga Januari 2026 untuk memilih ketua DPD yang baru.

Pelaksana Tugas Ketua DPD Golkar Sulsel, Muhidin Said, menyebut persiapan musda masih dalam tahap awal.

“Dalam waktu dekat akan ada kepanitiaannya,” singkatnya melalui pesan WhatsApp.

Posisi Ketua Golkar Sulsel hampir dipastikan akan diisi wajah baru. Ketua sebelumnya, Taufan Pawe, dipastikan tidak maju kembali karena memilih fokus menjalankan tugas sebagai anggota DPR RI.

Sejumlah nama disebut-sebut sebagai kandidat, antara lain Munafri Arifuddin, Andi Ina Kartika, Ilham Arief Sirajuddin, serta Adnan Purichta Ichsan.

PSI Gelar Rakernas Nasional di Makassar

Usai agenda Golkar, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulsel dijadwalkan menggelar kegiatan berskala nasional di Makassar. DPP PSI telah menunjuk Sulsel sebagai tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas).

Ketua DPW PSI Sulsel, Muammar Ferirae Gandi, memastikan persiapan Rakernas berjalan lancar.

“Seluruh kader PSI se-Indonesia akan hadir di Makassar. Persiapan aman dan terkendali, kami intens berkoordinasi dengan DPP,” ujar Gandi.

Ia juga menyebut Rakernas akan diwarnai sejumlah kejutan, termasuk kemungkinan bergabungnya tokoh-tokoh baru ke PSI.

“PSI partai terbuka. Kalau ada tokoh nasional atau tokoh hebat yang ingin bergabung, silakan,” katanya.

Saat ini, PSI Sulsel juga tengah merampungkan struktur kepengurusan kabupaten/kota, bahkan beberapa daerah telah terbentuk hingga tingkat ranting.

NasDem Fokus Jaga Soliditas

Di sisi lain, Partai NasDem memilih fokus menjalankan kerja-kerja politik di tengah berbagai isu yang menerpa sepanjang 2025, termasuk isu hengkangnya Ketua DPW NasDem Sulsel Rusdi Masse.

Ketua DPRD Sulsel sekaligus politisi NasDem, Andi Rachmatika Dewi, menegaskan partainya tidak ingin terjebak dalam isu liar.

“NasDem adalah partai pemenang di Sulsel. Tantangannya adalah mempertahankan itu,” ujar Cicu, sapaan akrabnya.

Ia menegaskan NasDem akan terus bekerja dengan semangat politik untuk kemanusiaan.

“Talk less, do more,” tutupnya.

Pengamat: Politik Sulsel Bergerak ke Arah Stabil

Pengamat politik Parameter Publik Indonesia, Ras MD, menilai politik Sulsel memasuki fase stabil pada 2026. Menurutnya, partai yang dekat dengan pusat kekuasaan dan memiliki struktur kuat cenderung menguat.

“Golkar dan Gerindra berada di posisi paling stabil karena kombinasi struktur, figur, dan akses kekuasaan,” ujarnya.

Sebaliknya, NasDem dinilai mengalami tren penurunan akibat melemahnya pengaruh nasional dan isu internal daerah.

Ras menegaskan kemenangan politik di Sulsel ditentukan oleh perpaduan figur dan mesin partai.

“Figur tanpa struktur hanya bersinar sesaat, sementara mesin tanpa figur juga sulit berkembang,” tegasnya.

2026 Jadi Tahun Ujian Politik

Sementara itu, pengamat politik Muhammad Asratillah menilai 2026 sebagai fase krusial politik nasional dan daerah.

“Jika 2025 adalah tahun pemanasan, maka 2026 adalah tahun ujian sesungguhnya,” ujarnya.

Ia menyoroti tiga isu utama: stabilitas pemerintahan, tekanan ekonomi rakyat, dan kualitas demokrasi. Menurutnya, politik 2026 akan lebih banyak dibahas di ruang keseharian masyarakat, bukan hanya di lingkar elite.

Di Sulsel, Asratillah menyebut politik cenderung pragmatis dan bertumpu pada jejaring elite.

“Partai yang punya akses kekuasaan dan mesin daerah yang rapi akan bergerak lebih tenang,” katanya.

Ia menilai Golkar masih berpeluang besar menguat, sementara Gerindra bergantung pada kemampuannya menerjemahkan kedekatan dengan pusat menjadi program konkret di daerah.

“Politik Sulsel 2026 bukan soal ledakan konflik, melainkan seleksi alam bagi partai politik,” pungkasnya. (raksul)