MAKASSAR,PEMBELANEWS.COM – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 05 September 2025 bertepatan dengan 12 rabiul Awal 1447 H, menjadi momentum untuk mengingat dan meneladani Nabi Muhammad SAW yang merupakan sosok yang sangat dihormati oleh umat Islam..
Hikmah Mualid Nabi Muhammad SAW pada momen demokrasi 2025 adalah ajakan untuk meneladani kepemimpinan Nabi yang berintegritas, sederhana, adil dan berpihak pada Rakyat.
Momen Maulid ini dapat menjadi refleksi agar demokrasi tidak yang sebatas seremoni Pemilu, teapi menjadi demokrasi substansif yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan kepedulian ssialdalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Dr Andrias Kango,M.Ag, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amal Gorontalo, dalam uraiannya di Gopos.id melansirnya, Indonesia saat ini lagi tidak baik-baik saja. Suara rakyat di jalanan berubah menjadi amarah dan api, kantor-kantor pemerintah dibakar, beberapa rumah pejabat dijarah, korban berjatuhan, nyawa pun melayang.
Bukan karena rakyat beringas tapi karena rasa sakit yang terlalu lama dipendam, ketidakadilan yang dipelihara, janji-janji yang dikhianati serta ketimpangan sosial yang terawat.
Kini semua dibayar dengan amarah. Ini bukan sekedar demonstrasi, ini adalah peringatan keras jika suara rakyat dibungkam, bila janji-janji terus diingkari dan amanah dikhianati. Maka amarah akan terus menyala dan cita-cita demokrasi hanya akan menjadi abu.
Ironi dan menyedihkan tragedi ini, justru terjadi di bulan kelahiran Sang Teladan kemanusiaan, Muhammad Saw. Saat sebagian umat Islam menabuh rebana solawatan, sebagian yang lain menabuh genderang melawan petugas. Ketika santri-santri bergemuruh membaca Maulid Simtudduror, mahasiswa dan rakyat bergemuruh menyuarakan protes ketidakadilan.
Maulid Nabi yang identik dengan nostalgia dan kecintaan berubah menjadi suasana yang mencekam. Dalam konteks ini, refleksi atas kelahiran dan teladan beliau memberikan pelajaran yang relevan.
Rasulullah hadir di Tengah Bangsa Arab pra Islam (jahiliyah) juga ditandai dengan kekacauan sosial, ketidakadilan struktural, konflik antar suku serta rusaknya moral manusia.
Beliau tampil memberi contoh kepemimpinan, membangun tatanan masyarakat dengan kejujuran, amanah, adaptasi sosial dan keberpihakan kepada kaum lemah. Beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pelayanan, bukan dari ambisi kekuasaan.
Dengan kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral, beliau berhasil mengubah tatanan masyarakat menuju keadilan, persatuan dan kesejahteraan. Ini pula yang menjadi kata kunci cita-cita Pancasila kita.
Fenomena politik Indonesia saat ini, menunjukkan adanya apa yang disebut oleh Larry Diamond sebagai democratic recession, yakni kemunduran kualitas demokrasi yang diakibatkan oleh lemahnya institusi, maraknya korupsi, dan tergerusnya etika politik.
Demokrasi kehilangan substansinya karena tidak lagi menekankan nilai keadilan sosial, melainkan dikuasai oleh praktik kekuasaan transaksional. Gejala ini tampak dalam berbagai kasus; mulai dari lemahnya integritas anggota legislatif, politik dinasti, lemahnya penegakan hukum hingga maraknya manipulasi kebijakan untuk kepentingan segelintir elite.
Jauh berbeda dengan apa yang dicontohkan Nabi. Beliau mengintegrasikan moralitas dengan politik. Beliau bukan sekadar pemimpin spiritual, melainkan juga negarawan yang mampu menyatukan masyarakat Madinah yang plural.
Melalui Piagam Madinah, Nabi menegaskan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan perlindungan hak-hak minoritas. Ibn Khaldun secara khusus menekankan bahwa keberlangsungan sebuah negara sangat ditentukan oleh asabiyyah (solidaritas sosial) yang berlandaskan nilai moral.
Nabi Muhammad memimpin dengan moralitas, memimpin dengan cinta sehingga melahirkan pengakuan integritas dan penghormatan yang tinggi dari Masyarakat yang dipimpinnya.
Sahabat Anas bin Malik saat ditanya soal kepemimpinan Muhammad Saw., beliau menggambarkan, Ketika Nabi sementara berbicara, maka di atas kepala-kepala kami seakan bertengger burung-burung. Tak ada yang berani mengangkat kepala karena kharisma dan wibawa beliau. Fakta nyata, bahwa Indonesia saat ini krisis pemimpin yang mengilhami kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.(cea)






