Review  

Hasto Dan Tom Lembong, Tidak Mengaku Bersalah Bapak Presiden

Editor : Nurzaman Razaq (foto ist)

MAKASSAR,PEMBELANE2WS.COM – Dampak yang merebak atas pemberian Amnesti dan Abolusi (Pengampunan hukuman), Hasto Kristiyanto, Sekjed.PDI-P dan Tom Lembong, mantan Menteri Perindag era Joko Widodo, mulai lagi menghangat, yang tidak mengaku bersalah.

Mengutip pernyataan Menteri Hukum dan Ham, sebelum persetujuan terbitnya Surat Keputusan terkait pemberian Amnesti dan Abolusi, menjelaskan, pertama, atas dasar pertimbangan dalam pemberian Amnesti dan Abolusi, itu pasti pertimbangannya demi kepentingan bangsa dan negara, berpikirnya tentang NKRI.”Jadi itu yang paling utama,” tandasnya.

Yang kedua adalah, lanjutnya kondusifitas dan merajut rasa persaudaraan di antara semua anak bangsa dan sekaligus mempertimbangkan untuk membangun bangsa ini secara bersama-sama dengan seluruh elemen politik, kekuatan politik yang ada di Indonesia.” Jadi itu yang kami ajukan kepada Bapak Presiden dengan pertimbangan-pertimbangan subjektif  yang saya sampaikan bahwa yang bersangkutan akan berkontribusi kepada Republik,” ujarnya menjelaskan.

Dengan pemberian pengampunan hukuman terhadap keduanya, para pendukungnya mulai berkoar-koar dengan pongah, Mas Hasto bisa hadir kembali untuk menunjukkan bahwa pada akhirnya kejahatan pasti kalah melawan kebenaran.

Sementara Megawati Soekarno Putri pada Kongres PDI-P menegaskan, apapun rintangan kita bisa selesaikan, termasuk pak Hasto. Oleh sebab itu teriak Megawati, hai para ahli hukum, ingatlah kalian dengan Dewi Keadilan kembalikan keadilan hukum itu di Republik Indonesia.

Megawati mengatakan, merasa aneh masa urusan begini aja Presiden harus turun tangan.”Loh saya kan pernah jadi Presiden,” ungkapnya suara datar.

Kekecewaan Yang Mendalam.

Atas keputusan Presiden Prabowo Subianto itu, rakyatpun bersuara dengan tulus dengan menyampaikan satu hal yang sangat penting, jangan terlalu muda memberi maaf kepada mereka yang bahkan belum pernah menunjukkan penyesalan.

Apalagi bila yang dimaafkan justru kini mulai menjelma menjadi penyulut kebingungan nasional. Mengubah Pengampunan menjadi panggung pembenaran dan memutarbalikkan realitas hukum menjadi drama politik murahan.

Keputusan Presiden memberi Amnesti dan Abolusi kepada dua tokoh yang sebelumnya sudah divonis bersalah, awalnya dipahami sebagai langkah besar untuk stabilitas bangsa, upaya merajut tenun persatuan. Hal itu sangat dipahami bahwa ini soal rekonsiliasi dan kelapangan jiwa.

Tapi sayangnya, niat baik Negara mulai dipelintir oleh mereka yang tak tahu diri. Mereka tidak menunjukkan sikap bijak sebagai orang yang baru saja diberi Pengampunan.

Sebaliknya mereka justru makin pongah, bukannya bersyukur dan menunduk rendah, malah meluruskan kerah dan menepuk dada, seolah Pengampunan adalah pembuktian bahwa mereka sejak awal tak bersalah.Publik disuguhi narasi-narasi halus namun licik. “Lihat kami dibebaskan berarti kami suci”.

Padahal putusan Pengadilan  tetap berlaku bahwa mereka bersalah. Itu fakta hukum. Dan Presiden bukan Tuhan yang menghapus dosa. Beliau hanya Kepala Negara yang mempertimbangkan kepentingan Republik .

Inilah yang mengkhawatirkan Amnesti dijadikan senjata politik, bukan alat pemulihan tapi panggung pembalasan. Mereka membentuk citra menampilkan diri sebagai korban,lalu memutar kenyataan demi menghapus sejarah hukum yang telah jelas tertulis.

Framing semcama ini sangat berbahaya. Ia tidak hanya mengelabui rakyat, tetapi juga menghina nalar publik, dan mempermainkan institusi hukum Negara ini. Dan kita lihat sekarang, kader-kader mereka mulai bersuara lantang, menyebar narasi tandingan seolah-olah hukum itu salah, seolah-olah mereka dijebak dan seolah-olah Pengampunan itu adalah rehabilitasi total.

Mereka menggunakan nama Presiden Prabowo untuk menutupi masa lalu mereka.Padahal yang diberi hanyalah Pengampunan, bukan Pemutihan. Olehnya, Presiden Prabowo harus hati-hati, tidak semua yang tersenyum  di depan kamera adalah sahabat  Negara. Tidak semua yang menyebut  persatuan di bibir punya niat menyelamatkan Republik ini. Ada yang menusuk dari belakang , ada yang bersalaman agar lebih leluasa mencuri narasi.

Jangan sampai keputusan besar ini untuk merangkul. Justru malah akan menjadi jalan mereka untuk menguasai opini publik, memanipulasi emosi massa dan menjadikan pemerintahan sebagai alat pelindung bagi kebohongan mereka yang belum tuntas.

Kita sedang membangun masa depan, bukan menghidupkan kembali kebusukan masa lalu. Dan kepada Rakyat Indonesia, waspadalah terhadap mereka yang bicara manis soal keadilan. Tapi tidak pernah sekalipun mengakui kesalahan. Mereka bicara tentang demokrasi, tetapi menolak fakta hukum. Mereka bicara tentang persatuan, tetapi tidak pernah berhenti membelah kepercayaan publik dengan narasi sesat.

Ini bukan soal dendam, ini soal kesadaran.Ini bukan soal memaafkan, tetapi soal akuntabilitas atas setiap tindakan yang pernah mencabik-cabik wajah hukum kita.

Jangan biarkan Bangsa ini diseret ke mana-mana, dimana hukum hanyalah alat tawar menawar politik. Jangan dibiarkan Pengampunan dijadikan senjata balik untuk menyerang Negara yang telah memberi kelonggaran .

Mengawal Presiden Prabowo

Presiden Prabowo, rakyat mendukung Anda, tapi juga mengawal Anda. Karena kami tahu jalan menuju kemajuan bukan hanya soal pembangunan fisik dan ekonomi, tapi juga soal integritas keberanian menjaga kebenaran dan ketegasan dalam menghadapi para manipulator yang menyamar  sebagai pejuang.

Dan lihatlah sekarang, mereka yang dulu berdiri di barisan yang melawan hukum, kini berjalan tegak dengan penuh percaya diri seolah-olah telah menang secara moral, seolah-olah merekalah korban dari sistem yang kecam.

Padahal yang kecam adalah, cara mereka memutarbalikkan logika publik menjadikan vonis Pengadilan sebagai semacam karangan fiksi  dan menjadikan pengampunan negara sebagai alat legitisimasi kebohongan.

Presiden Prabowo, Anda adalah pemimpin yang dikenal tegas dan berpihak pada bangsa, tapi justru karena itu rakyat meminta Anda untuk tidak terlalu lunak pada mereka yang hanya tahu mengambil  bukan memberi.

Mereka tak tak pernah benar-benar bertobat, mereka hanya menunggu celah.Dan ketika celah itu dibuka melalui Amnesti dan Abolisi, mereka menyelah. Bukan untuk berterima kasih tapi untuk menguasai kembali narasi yang dulu sudah terkubur oleh fakta hukum.

Jangan heran,bila mereka kembali tampil  di layar kaca, bukan sebagai mantan terpidana, tetapi tampil sebagai pahlawan yang difitnah . Jangan kaget bila suara mereka muai terdengar leih nyaring dari program-program Anda sendiri. Sebab mereka datang tidak membawa persatuan, mereka datang membawa strategis, menunggangi niat baik Anda untuk tujuan buruk mereka. Dan Lebih dari itu, mereka tidak bergerak sendiri, di belakang mereka ada barisan penggiring opini, para influenza politik di kanal-kalan youtube bayaran, akun-akun anonim yang menyebarkan natasi pembersihhan nama baik, membenturkan keputusan Presiden dengan fakta hukum, hingga membuat rakyat bingung. Mana yang benar, mana yang palsu.

Disinilah bahayanya Pak Presiden. Ketika niat tulus Anda dipakai untuk mencuci kesalahan, bukan untuk menguatkan keadilan. Ketika Keputusan Kenegaraan Anda dimanfaatkan untuk membungkam kritik, bukan menyatukan rakyat. Ini bukan lagi makna rekonsiliasi, ini bukan membangun masa depan. Ini membangun dosa masa lalu tanpa pelajaran apapun. Ini bukan Pengampunan, ini adalah penyimpangan moral yang dibungkus kata maaf.

Kami ingin Presiden Prabowo  sadar sepenuhnya, bahwa Anda sedang  diawasi, bukan hanya oleh rakyat yang mencintai Anda, tapi oleh mereka yang berharap Anda lengah. Mereka yang dulu menganggap Anda musuh politik, kini bersikap manis. Bukan karena cinta, tapi mereka tahu Anda sedang berkuasa

Apakah Anda menjadi pemimpin yang dimanfaatkan oleh mereka yang tak punya loyalitas terhadap Republik ini. Apakah Anda akan membiarkan langkah Pengampunan yang Anda berikan, berubah menjadi senjata pembenaran, untuk mereka yang tak pernah merasa bersalah

Dan kepada para politisi yang ikut membisik di telingan Presiden, cukup . Dan berhentilah memperalat kebesaran hati negara  untuk membersihkan citra kelompok Anda sendiri. Rakyat tahu, Rakyat mencatat, jangan kira bangsa ini bodoh, kami tidak menolak Pengampunan, tapi kami menolak penipuan  dalam nama Pengampunan

Kami tidak anti rekonsiliasi, tapi kami anti aktor-aktor politik  yang berdiri di atas dusta lalu mengklaim kemenangan moral dari keputusan yang seharusnya membuat mereka tunduk dan diam.

Negara tidak boleh kalah oleh framing, Presiden tidak boleh dilemahkan oleh kepura-puraan.Kini saatnya kita bertanya dengan lantang, Siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari pemberian Pengampunan ini. Apakah demi rakyat atau demi menyelamatkan segelintir elit politik yang tak pernah rela menerima vonis hukum, yang sejak awal memang hidup dari kebohongan berjamaah dan framing berjilid-jilid.

Presiden Prabowo, jangan biarkan pemerintahan Anda dijadikan alat pembesih dosa politik masa lalu. Jangan sampai kursi kekuasaan Anda dipinjam untuk menghidupkan kembali tokoh-tokoh yang dulu mencaci negara, mencabik hukum, bahkan menyulut api perpecahan dengan narasi dusta.

Yang paling ironis, mereka sekarang bermain di ruang yang paling rawan, ruang persepsi publik, Mereka tahu bagaimana mengatur narasi, mereka tahu bagaimana menyusup ke ruang-ruang digital masyarakat. Mereka hadir dengan gaya korban yang difirnah, dengan wajah santun dengan kalimat manis. Tapi sejatinya tengah mengikis kepercayaan publik terhadap keadilan.

Kita semua tahu, Pengampunan Negara bukan sertifikat kebebasan moral, tapi sekarang mereka justru menjual itu kemana-mana, seolah telah mendapat pengakuan suci. Bahkan ada yang secara terang-terangan membandingkan Pengampunan dengan pembatalan vonis, dengan menyebarkan bahwa mereka telah oleh sejarah. Padahal sejarah mencatat, mereka bersalah. Hukum mencatat, mereka dihukum. Dan negara hanya memilih memaafkan, bukan melupakan Presiden

Presiden, ini bukan tentang Anda yang salah dalam mengambil  langkah. Ini tentang bahyayanya memberi kepercayaan kepada orang-orang  tidak punya niat baik.

Kita tidak sedang bicara soal hukum semata, tapi soal integritas bangsa. Kita tidak sedang membicarakan dua nama tapi satu sistem keadilan yang sedang coba diseret-seret dalam kubangan framing politik.

Apakah Bapak ingin dikenang sebagai Presiden yang memaafkan mereka yang tidak pernah mengakui kesalahannya atau justru ingin diingat sebagai Presiden yang berani mengevaluasi dan menarik garis tegas saat rekonsiliasi dijadikan alat manipulasi .

Jangan biarkan momentum ini menjadi luka sejarah. Rakyat yang Anda Pimpin bukan hanya ingin damai, tapi juga ingin keadilan tidak diinjak-injak oleh mereka yang paling keras mengaku dizalimi,padahal sebenarnya pelaku.

Mereka kembali untuk tidak membantu Prabowo, mereka kembali untuk menunggangi momentum politik yang diciptakan Presiden Prabowo. Di belakang mereka ada jaringan tinteng yang selama ini gagal mempengaruhi opini rakyat. Kini mencari jalan pintas dengan menempel di pemerintahan. Mereka ada di lembaga-lembaga strategis, Ormas, institusi pendidikan, bahkan menyusup di kelompok buzzer dengan rekonsiliasi murahan.

Dan jika ini dibiarkan, maka keputusan Amnesti akan menjadi preseden beracun. Bukan sebagai lambang kelapangan jiwa, tapi sebagai bukti bahwa hukum bisa ditekuk demi persatuan semu Mereka tak akan pernah berhenti sampai narasi mereka menang, sapai sejarah dimanipulasi dan sampai mereka kembali duduk di kursi pengaruh

Presiden Prabowo Subianto, kami masih percaya pada ketegasan Anda, kami masih yakin bahwa Anda tak akan membiarkan bangsa ini dikendalikan oleh aktor-aktor politik yang dulu menuduh Anda diktator yang pernah menyerang integritas Anda  yang kini menyamar menjadi sahabat demi satu hal kekuasaan.

Tapi rakyat buka cek kosong, kepercayaan harus dibayar dengan ketegasan, dengan kehati-hatian, dengan kemampuan membaca gelagat. Dan saat ini gelagatnya sudah sangat jelas. Pengampunan mulai dijadikan alat untuk mengutak-atik ulang sejarah kekuasaan.

Jangan biarkan tangan yang Anda ulurkan untuk perdamaian justru dijadikan pegangan oleh mereka yang berniat menyeret Anda ke jurang manipulasi sejarah

Jangan niat baik Anda  dicatat sejarah sebagai titik awal dari kebangkitan para oportunis politik. Dan kepada Rakyat Indonesia jangan pasrah. Jangan biarkan suara Anda dibungkam oleh framing. Jangan percaya begitu saja pada narasi rekonsiliasi kalau pelakunya bahkan belum pernah menunjukkan rasa bersalah.

Kita tidak anti damai, kita hanya anti lupa, kita tidak menolak memaafkan, tapi kita menolak dibohongi kembali lagi oleh orang yang sama dengan cara yang sama tapi dikemas lebih rapi.

Mari jangan Bangsa ini dengan nalar, dengan ingatan dan dengan keberanian untuk menyatakan yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah, meski ia telah diberi maaf oleh Negara. (dari berbagai sumber)