Efek Amnesti Dan Abolisi, Indonesia Tanah Air Siapa
MAKASSSAR,PEMBELANEWS.COM – Merdeka !!, 80 tahun Indonesia Merdeka, tapi hari ini saat tangan kami mengikat bendera di ujung bambu tua di depan rumah, hati kami bukan melambung tapi bergumam pelan getir, Indonesia tanah air siapa.
Itu bukan sekedar penggalan lagu yang sedang viral, itu teriakan sunyi dari Rakyat kecil yang makin hari makin merasa diusir dari negerinya sendiri. Tanah ini katanya milik kita semua, tapi yang menikmati yang elit-elit saja, yang di bawah ditekan, dibungkam , disingkirkan pelan-pelan.
Bapak Presiden Prabowo, kami tahu bapak baru saja duduk di kursi panas itu, tapi sayangnya panasnya cepat terasa bagi kami di bawah.Bukan karena keberanian bapak menyala, tapi karena bara kecewa mulai menjilat kaki kami yang penuh luka.
Masak baru sebentar duduk di singgasana sudah sibuk bagi-bagi Amnesti dan Abolisi. Untuk siapa, untuk Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto. Tom Lembong, okey lah bisa kita anggap wilayah abu-abu hukum. Tapi Hasto , itu bukan lagi abu-abu. Itu sudah hitam legam divonis Pengadilan karena kasus penyuapan 3,5 tahun.
Belum sempat menyentuh kedalaman penyelasan di balik jeruji besi, sudah bapak angkat keluar lewat pintu kehormatan. Ini bukan pemaafan. Ini penghinaan terhadap akal sehat dan perjuagan panjang reformasi.
Kami ingat betul bagaimana bapak dulu bicara lantang soal pemberantasan korupsi, bagaimana bapak bicara tentang integritas, tentang moral, tentang menjaga api reformasi. Tapi sekarang bapak padamkan sendiri api itu dengan tangan bapak sendiri. Jangan salah paham pak, kami ini bukan haters.
Kami adalah Rakyat yang dulu memilih bapak, karena Bapak Jokowi mendukung bapak. Karena itu pula kami bertahan , karena kami pikir akan ada kesinambungan. Akan ada warisan semangat kerja nyata , keberpihakan pada wong cilik, dan keberanian menantang oligarki
Tapi yang kami lihat sekarang, justru langkah-langkah yang kian menjauh dari jalan Jokowi. Kami tahu bapak ingin rekoksiliasi, kami tahu bapak ingin merangkul PDIP dan Bu Mega demi peta politik 2029
Tapi kalau caranya dengan penistakan prinsip dan nurani hukum, itu bukan rekonsiliasi, itu transaksi politik namanya pak. Bapak bisa berdalih ini strategi besar, tapi kami yang di bawah tahu betul, mana langkah negarawan dan mana manuver hasu kekuasaan.
Dan jangan lupa, 58 persen suara pendukung itu bukan punya bapak, itu milik pak Jokowi. Itu karena Rakyat percaya pada pak Jokowi, bukan semata pada bapak.
Jadi mohon jangan terlalu percaya diri seolah mandat itu milik pribadi. Karena mandat itu bisa diambil kembali oleh Rakyat. Apalagi sekarang muncul ironi baru, 28 juta rekening Rakyat diblokir PPATK. Reking Rakyat kecil pak, rekening TKW yang sedang ingin pulang, rekening bapak-bapak yang sedang dirawat di rumah sakit, rekening ibu-ibu yang menyimpan uang anak sekolah. Uang mereka dibekukan, hidup mereka dilumpuhkan. Lalu Kepala PPATK dipanggil ke Istana. Bapak buat pertunjukan seolah-olah ini bukan kebijakan Pemerintah, hanya personel decision.
Bapak Presiden, jangan main drama murahan, kami tahu level kepala PPATK sekelas menteri, tidak mungkin ia bergerak tanpa restu kekuasaan. Jadi tolong, jangan permainkan emosi Rakyat dengan panggung teatrikal murahan seperti itu.
Kalau Bapak betul ingin menunjukkan keberpihakan, sahkan segera RUU perampasan aset koruptor. Itu lebih nyata, itu lebih berdampak. Dan itu sejalan dengan semangat pak Jokowi. Kami juga di bawah juga belum lupa, janji-janji kampanye bapak.
Kesehatan gratis, subsidi listrik, BBM murah, mahasiswa dibiayai ke luar negeri, makan bergizi gratis. Yang kami lihat sekarang, janji masih jadi baliho, realisasi masih jadi lelucon.
Sudah berapa juta anak yang dapat makan bergizi itu, sudah berapa dapur rakyat terbangun. Jangan salahkan kami kalau mulai tertawa getir. Karena semakin banyak Rakyat yang merasa dijadikan bahan eksperimen politik.
Pak Prabowo, kami masih ingat gaya Pak Jokowi, tidak pernah menyalahkan pendahulu, tidak pernah cari panggung, tidak banyak pidato, tapi kerja nyata. Dia tidak memelihara dendam politik, dia merangkul , tapi bukan untuk bersekongkol.Dia turun ke pasar , blusukan ke desa bahkan masuk ke gang-gang sempit di perumahan Rakyat.
Itu sebabnya kami mencintai beliau, bukan karena kultus individu, tapi karena integritas yang konsisten, kami pada Jokowi bukan fanatisme buta, tapi bentuk perlawanan terhadap elit-elit haus kekuasaan yang meremehkan kecerdasan Rakyat.
Rakyat kini semakin gelisah, bukan karena kami benci bapak, tapi karena kami takut apakah Indonesia kedepan akan dikendalikan oleh politikus –politikus yang hanya lihai dalam transaksi , tapi miskin keberpihakannya kepada Rakyat. Kami tidak ingin Indonesia jatuh ke tangan mereka yang bernafsu kuasa, tapi miskin integritas.
Kini sudah menyeruak isu-isu seperti desakan referendum dari luar negeri untuk Aceh, Papua barat bahkan Sulawesi. Kami tahu ancaman disintegrasi bisa jadi nyata. Tapi justru katena itulah Bapak harus lebih bijak . Jangan tambah bara di negeri yang retak, jangan ambil langkah yang sembrono yang mencederai marwah negara.
Blok Ambalat contohnya, itu bukan ladang minyak biasa, itu harga diri bangsa . Pak Jokowi dulu menyelamatkan Blok Mahakam, Blok Rokan an masih banyak lagi . Tapi sekarang, kenapa malah terlihat pasrah ke Malaysia. Apakah bapak tidak sadar bahwa itu wilayah kita. Bahwa perjanjian 1969 sudah jelas.
Bapak pemimpin negara sekarang, jangan terlihat seperti cecunguk yang minta maaf pada tetangga, karena tekanan politis. Pak kami ini Rakyat kecil, kami hanya punya satu suara, tapi kalau ribuan suara kecil ini menyatu , bisa jadi badai besar .
Jangan sampai lontaran suara lantang, Indonesia tanah air siapa. Bapak mungkin Presiden hari ini, tapi Rakyatlah yang menentukan arah bangsa ini . Dan suara Rakyat tak bisa dibungkam dengan baliho, amnesti atau panggung drama .Karena kami tidak minta lebih, kami hanya minta jangan rusak Indonesia yang sudah susah payah yang sudah dijaga selama 10 tahun oleh pak Jokowi.
Masih tercatat, di masa pak Jokowi BLT disalurkan tepat sasaran, Kartu Indonesia Sehat menyentuh hingga pelosok, Tol dibangun bukan buat gaya, tapi buat konektivitas. Jokowi tidak berteori, tapi hadir langsung di sawah, di pasar, di tambang. Dan yang paling penting, pak Jokowi tidak pernah mengkhinati kepercayaan Rakyat.
Nah sekarang, bagaimana Rakyat bisa percaya. Baru sebentar duduk yang diselamatkan malah para elit terjerat kasus , yang dibungkam justru rekening Rakyat kecil, yang disusun justru koalisi untuk 2029, bukan solusi untuk 2024.
Bapak bilang ingin menyatukan bangsa, tai langkah bapak justru mengoyak harapan. Jangan sampai Rakyat menila, yang duku bapak musuhi sekarang bapak peluk. Yang dulu bapak janjikan, sekarang bapak tinggalkan.
Kami ini bukan pengamat politik, kami bukan penulis pidato, kami Cuma orang-orang yang menanti harapan. Tapi kalau haraan itu diinjak pakai sepatu kebijakan yang elitis , kami bisa jadi lawan.
Jangan remehkan kekuatan Rakyat kecewa, semua kalkulasi politik bapak untuk 2029 akan bisa berubah, manakala Rakyat bersatu. Indonesia yang diprediksi bubar tahun 2030 bukan karena dari luar, tapi karena pengkhianatan dari dalam. Tentunya Rakyat Indonesia tak inginkan negaranya bubar.
Maka dengarkanlah catatan harapan Rakyat ini. Jangan sampai Tanah air ini bukan lagi milik Rakyat. Maka jangan salahkan jika Rakyat mengambl kembali dengan cara yang tak lagi diam.(sumber Brojomusti).






