Review  

Memaknai HUT Kemerdekaan RI Ke-81.(Jilid 1)

Editor; Nurzaman Razaq (Ketua SMSI Sinjai)

Refleksi Kritis Di Tengah Efesiensi Anggaran Dan Kesenjangann Ekonomi.

MAKASSAR,PEMBELANEWS.COM – Perayaan nasional sering kali diwarnai oleh ironi kesenjangan ekonomi, di mana angka pertumbuhan makro yang positif belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tahun 2026 ini, Indonesia kembali merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaannya  ke-81 pada 17 Agustus 2025. Perayaan dengan tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera Indonesia Maju” ini, hadir di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

Di balik kemegahan seremonial dan semangat nasionalisme yang digaungkan, bangsa ini menghadapi realitas pahit berupa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, tingginya angka pengangguran, dan kebijakan efisiensi anggaran yang ketat.

Pandangan para pakar dan pengamat menyoroti bahwa kemandirian ekonomi yang sejati masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, bukan sekedar diperingati dan dirayakan, ini adalah pengingat bahwa bangsa Indonesia pernah bangkit dari ketertindasan dengan kekuatan persatuan dan kesadaran kolektif.

Tahun 2026 ini, kita menghadapi tantangan yang berbeda—bukan kolonialisme, tetapi tekanan ekonomi global, ketimpangan, dan ketidakpastian masa depan.

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di atas 5%, realitas di lapangan menunjukkan hal lain. Harga-harga naik, daya beli masyarakat menurun, lapangan kerja semakin sempit, dan generasi muda harus bersaing dalam ekosistem digital yang belum merata. Ketimpangan antara kota dan desa, pusat dan daerah, masih menjadi luka lama yang belum sembuh.

Di sinilah makna memperingati Hari Kemerdekaan Bangsa ini. Kita tak bisa hanya mengandalkan angka pertumbuhan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berubah: dari budaya konsumtif ke produktif, dari eksploitasi ke inovasi, dari ketergantungan ke kemandirian.

Bonus demografi akan jadi beban jika tidak diimbangi dengan lapangan kerja yang berkualitas dan pendidikan dan kesehatan  yang relevan dengan zaman.

Kemerdekaan Bangsa ini, bukan lagi soal mengusir penjajah, tapi soal membebaskan diri dari kemalasan berpikir, ketergantungan ekonomi, dan kepasrahan sosial.

Kita punya potensi besar—dari UMKM, ekonomi digital, hingga sektor pertanian dan energi terbarukan. Tapi potensi tidak berarti apa-apa jika tidak dibangkitkan.

Pada sisi lain pandangan pakar ekonomi menyoroti, bahwa kesenjangan ekonomi di usia kemerdekaan yang matang, masih diwarnai oleh disparitas antar wilayah, tekanan pada kelas menengah, serta dominasi penguasaan sumber daya oleh segelintir elit. Peringatan kemerdekaan dipandang sebagai momentum refleksi agar keadilan sosial benar-benar dirasakan seluruh rakyat. (dari sumber yang berbeda)