Merdeka secara politik, terjajah secara sosial ( Sebuah paradoks di mata jurnalis)
MAKASSAR,PEMBELANEWS.COM – Arti kemerdekaan Republik Indonesia di tengah ketimpangan saat ini, adalah panggilan untuk mewujudkan keadilan sosial yang belum merata.
Kemerdekaan bukan cuma bebas dari penjajah, tapi juga pengingat bahwa tugas besar melawan kemiskinan, beda akses, dan beda nasib masih harus diselesaikan bersama.
Di usia yang ke-81, Indonesia telah mencapai banyak kemajuan dalam berbagai aspek. Sebagai bangsa yang merdeka, kita berbangga atas kemerdekaan politik yang telah kita raih.
Namun, di tengah semarak menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, tidak bisa menutup mata terhadap paradoks yang menyelimuti bangsa ini. Meski merdeka secara politik, kita masih terjajah secara sosial oleh kesenjangan yang kian menganga.
Kesenjangan sosial di Indonesia adalah masalah yang nyata dan mendesak. Ketika berbicara tentang kemiskinan, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS),jumlah penduduk Indonesia yang beradadi bawah garis kemiskinan tercatat sebanyak 23,36 juta orang (8,25% dari total penduduk) per September 2025 yang dirilis pada awa tahun 2026
Yang artinya, angka tersebut yang sehari-harinya berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dengan melihat fakta ini, bagaimana mungkin di negeri yang merdeka ini masih ada begitu banyak orang yang hidup dalam kekurangan?
Tidak hanya kemiskinan, kesenjangan pendapatan juga menjadi masalah yang signifikan. Data dari Oxfam Indonesia menunjukkan bahwa satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai hampir setengah dari total kekayaan negara. Sementara itu, 50 persen penduduk terbawah hanya menguasai sekitar tujuh persen dari total kekayaan. Ketimpangan ini menciptakan jurang yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin, menghambat upaya untuk menciptakan keadilan sosial.
Lantas bagaimana dengan pendidikan.yang merupakan salah satu kunci untuk keluar dari kemiskinan.Bisa jadi masih menjadi domain kesenjangan. Meskipun pemerintah telah berupaya dengan berbagai program bantuan sosial, Masih banyak anak-anak di daerah terpencil yang tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Fenomena anak-anak yang harus menempuh jarak berkilo-kilometer dengan berjalan kakihanya untuk sampai ke sekolah, bisa dimaknai kemerdekaan yang kita rayakan belum sepenuhnya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Kesehatan juga tidak luput dari bayang-bayang kesenjangan. Akses terhadap layanan kesehatan yang memadai masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah pedalaman dan terpencil.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa rasio dokter terhadap penduduk di Indonesia masih rendah, yakni masih berada di kisaran 0,45 hingga 0,47 dokter per 1.000 penduduk.
Angka ini masih berada di bawah standar ideal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan rasio 1 dokter untuk setiap 1.000 penduduk.
Fenomena tentang ibu-ibu hamil yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,pasien yang tak tertolong dengan tumpangan ambulance, pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang non Bpjs dihadangdengan beragam persyaratan administratif. Feomena ini menunjukkan bahwa , masih jauh dari cita-cita kemerdekaan yang sejati.
Belum lagi soal Perumahan layak juga menjadi mimpi yang belum terwujud bagi banyak orang. Kondisi ini mencerminkan bahwa meskipun kita merdeka, masih banyak rakyat yang hidup dalam kondisi yang tidak layak.
Kemerdekaan sejati bukan hanya soal merdeka dari penjajahan politik, tetapi juga merdeka dari segala bentuk penindasan sosial. Kita perlu melihat kemerdekaan dari perspektif yang lebih luas, yaitu bagaimana setiap individu di negeri ini bisa merasakan kemerdekaan dalam segala aspek kehidupannya.
Kesenjangan sosial bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Dapat diyakini , bahwa dengan kemauan politik yang kuat, kerja sama antar semua elemen masyarakat, dan kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial, kita bisa mengurangi kesenjangan ini. Kita perlu belajar dari negara-negara lain yang berhasil mengurangi kesenjangan sosial melalui kebijakan inklusif dan redistribusi kekayaan.
Jangan merasa puas dengan kemerdekaan politik. Etapi perlu terus berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan sosial, ekonomi, dan budaya. Sebagai bangsa yang besar, kita memiliki potensi yang luar biasa untuk mencapai itu semua.
Indonesia dii usia ke-81 tahun ini, bersama memaknai apa arti kemerdekaan yang sesungguhnya ?? Tidak hanya sebagai peringatan akan lepasnya kita dari penjajahan, tetapi juga sebagai momentum untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Namun, apakah dengan hanya dengan begitu, kita bisa benar-benar merdeka, yang bukan hanya secara politik, tetapi juga secara sosial dan ekonomi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukanlah mimpi, melainkan cita-cita yang harus terus kita perjuangkan bersama.(bacaan dari beragam sumber)



