Catatn Pinggir: Klaim Pemkab Sinjai Soal Turunnya Angka Kemiskinan dan Tumbuhnya Ekonomi
SINJAI,PEMBELANEWS.COM – Penurunan angka kemiskinan dari 7,82 persen menjadi 7,41 persen dan pertumbuhan ekonomi di Sinjai meningkat dari5,17 persen menjadi 6,05 persen.
Penuruan kemiskinan dan pertumbuhn ekonomi yang signifikan di Kabupaten injai, dipaparkan Bupati Sinjai, Hj.Ratnawati Arif pada Sidang Terbuka DPRD Sinjai daam rangk Peringatan Hari Jadi Sinjai (HjS) ke-462, Jumat siang (27/02/2026) di Gedung DPRD Sinjai.
Disamping itu Bupati Sinjai menyinggung soal IndekPembagunan Manusia (IPM) Sinjai yang juga meningkat dari 71,81 persen menjadi 72,76 persen. Yang sama halnya Indeks kualitas lingkungan hidup yang meningkat dari 70,37 menjadi 79,89, mutu layanan kesehatan juga terus ditingkatkan dari berbagai sisi.
Pencapaian tersebut, patut mendapat apresiasi positif sebagai bentuk upaya pemerintah daerah yang dinahkodai Hj.Ratnawati Arif dan Andi Mahyanto Mazda sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sinjai, meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Meski begitu, pemaparan pemeritah daerah menurunan angka kemiskinan dan peninhkatan ekonomi, tentu didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang memang menunjukkan tren positif secara makro.
Diketahui bahwa, hingga September 2025, angka kemiskinan nasional tercatat turun menjadi 8,25 persen(sekitar 23,36 juta orang) dari 8,47 persen pada Maret 2025.
Meskipun yang disampaikan Bupati Sinjai memiliki landasan data formal, terdapat bebeapa catatan kritis dan persepketif berbeda yang perlu diperhatikan agar gambaran kesejahteraan masyarakat terlihay lebih utuh.
Dengan kata lain, agka-angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan realita kesejahteraan di lapangan.
Sebagai catatan perbandingan, dilihat pada standar perhitungan. beberapa lembaga ekonomi menilai standar garis kemiskinan BPS (sebesar Rp609.160 per kapita per bulan pada Maret 2025) tidak relevan dengan status Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah atas. Jika menggunakan standar Bank Dunia yang lebih tinggi, jumlah penduduk miskin bisa melonjak signifikan.
Pada sisi tentang kenaikan kemiskinan perkotaan berbeda dengan perdesaan, persentase kemiskinan di wilayah perkotaan justru meningkat menjadi 6,73 persen pada Maret 2025.
Meski angka kemiskinan turun, masyarakat tetap menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi, yang membebani daya beli.
Tentang pertumbuhan ekonomi dapat dibilang belum tentu dirasakan merata olleh seluruh lapisan.. Meski ekonomi tumbuh, seringkali pertumbuhan tersebut tidak merata, menciptakan ketimpangan yang masih menjadi tantangan.(*).






