Opini  

Ramadhan Dalam Perspektif Jurnalisme

Editor : Nurzaman Razaq (foto ist).

MAKASSAR,PEMBELANEWS.COM –  Sikap bijaksana dengan adanya perbedaan awal puasa Ramadhan 1447 / 2026 ini, merupakan Rahmat dan Anugerah bagi Ummat Muslim. Oleh karena itu, perbedaan merupakan  keniscayaan yang dikehendaki oleh Allah SWT di bumi ini. Kita Suci Al-Qur’an pun mengakui perbedaan dan menganjurkan manusia menyikapi dengan bijak.

Agar terciptanya suasana kekhususan dan kondusif dalam ibadah puasa ini, tentunya banyak hal yang harus dilihat selain faktor manusia sebagai umat, juga suasana kondisinya yang harus tercipta dalam keadaan tenang, damai dan harmoni.

Salah satu hal penting yang wajib diperhatikan di Bulan Ramadhan ini, adalah bagaimana peran jurnalis berupaya menciptakan dinamika informasi baik dan benar yang selalu hadir ditengah-tengah masyarakat.. Informasi ini bisa beragam tentang berbagai hal yang terkait dengan peristiwa maupun kegiatan masyarakat.

Ramadhan dalam perspektif jurnalistik, mengajak para jurnalis mengedepankan jurnalisme spiritual dalam pemberitaan selama bulan Ramadan.

Intensionalitas ibadahnya itu harus dilakukan dengan niat. Jadi jurnalisme diposisikan sebagai amal saleh, dilandasi kejujuran dan keberpihakan kepada kebenaran,

Peran Jurnalis (wartawan/pers), yang dipahami sejalan dengan misi dakwah melalui tulisan atau dakwah bil qolam yang pahalanya setara dengan dakwah melalui mimbar-mimbar agama.

Penceramah / khatib berdakwah dengan mulut, Jurnalis berdakwah dengan tulisan. Itu sama-sama pahalanya. Informasi yang baik mendatangkan keberkahan bagi umat dan atau masyarakat.

Dalam perspektif etika, penerapan komunikasi profetik patut menjadi perhatian yang meneladani sifat kenabian seperti sidiq, fathonah, tabligh, dan amanah. Media pers dipandang perlu menghindari penyebaran informasi negatif selama Ramadan dan lebih mengutamakan jurnalisme yang membawa maslahat.

Dengan mendorong apa yang disebutnya sebagai hope journalism atau jurnalisme harapan, yakni pemberitaan yang menonjolkan kebaikan, filantropi, solidaritas, serta transformasi moral masyarakat.

Fungsi sosial media pers (tercetak dan online) sebagai ruang persaudaraan dan literasi spiritual publik. Media pers diharapkan membantu masyarakat memahami makna Ramadhan secara lebih mendalam.

Media pers sebagai ruang ukhuwah, ruang kesadaran yang menimbulkan hubungan baik. Juga membantu masyarakat memahami makna Ramadan..

Meski demikian, fungsi kontrol tetap harus dijalankan di Bulan Ramadhan ini. Kritik konstruktif yang tetap beretika dan beradab tetap dilakukan. Berupaya membangun ekologi informasi damai selama bulan suci Ramadhan.

Dalam konteks Bulan Suci Ramadhan, tentunya peran jurnalisme sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk memberikan pencerahan dan penguatan mengenai informasi lokal. Informasi utama adalah dalam rangka mendukung suasana kekhusuan dalam ibadah puasa yang dilaksanakan oleh umat Muslim yang sedang berpuasa.(dari sumber lain).