Editor: Nurzaman Razaq
MAKASSAR,PEMBELANEWS.COM – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel akan menghelat Konferensinya Juni 2026 mendatang, yang ditandai berakhirnya kepengurusan H.Agussalim Alwi Hamu periode 2021-2026.
Konferensi yang bakal dihadiri sekitar 306 anggota berdasarkan yang tertuang dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang disahkan oleh PWI Pusat itu, sejak sebulan terakhir ini menyeruak sejumlah masalah yang terkesan bakal mewarnai konferensi tersebut.
Hasil pemantauan menunjukkan, masalah yang menjadi sorotan dan tanda tanya kalangan anggota, berawal adanya upaya dari unsur panitia konferensi baik dari Organizing Committee (OC) maupun Steering Committee (SC) yang ikut bermain dalam kontestasi pencalonan Ketua PWI Sulsel.
Situasi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan mencederai independensi pelaksanaan konferensi. Tak hanya itu, sejumlah syarat pencalonan yang diterapkan panitia juga dipersoalkan karena dianggap tidak memiliki dasar dalam PD/PRT PWI.
Sorotan juga diarahkan pada mekanisme verifikasi dan validasi peserta maupun bakal calon yang hingga kini dinilai belum transparan. Menurut Anwar, terdapat kebingungan di lapangan terkait mekanisme pendaftaran, karena ada peserta yang mendaftar atas nama media, bukan langsung sebagai bakal calon.
Menurut Anwar Sanusi,mantan Sekertaris PWI Sulsel periode 2015-2020, ketentuan tersebut tidak ditemukan dalam aturan organisasi dan berpotensi menjadi instrumen pembatasan hak anggota untuk maju dalam kontestasi.
Sebagai organisasi profesi wartawan tertua di Indonesia, lanjutnya, PWI dinilai harus menjaga proses demokrasi internal agar tetap transparan, akuntabel, dan berlandaskan aturan organisasi yang sah. Konferensi bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga cermin kedewasaan organisasi dalam menegakkan etika dan tata kelola
Kecurangan Makin Menyeruak?
Semakin mendekat pelaksanaan Konferensi, semakin menyeruak sinyal kecurangan.Kini fenomena tidak sehat dan praktek pembegalan calon mewarnai aroma kerasnya persaingan.
Suwardi Thahir yang menjadi poros tengah dari tiga calon yang bakal maju diperhelatan perebutan kursi ketua, berusaha didepak dari bakal calon,lantaran dua calon lainnya ditengarai dari kekuatan kubu mantan ketua periode sebelumnya, akhirnya lolos setelah Pengurus PWI Pusat memustuskan ST, sapaan akrabnya sah secara administrasi sebagai anggota PWI dan berhak menjadi kontestan di konferenai lima tahun ini.
Tidak berhenti di situ, saya “Anwar Sanusi” mantan Sekretaris PWI Sulawesi Selatan periode 2015 – 2020, juga tidak luput dari kriminalisasi. Dia pemegang kartu anggota 23.00.10470.01B dengan masa berakhir 6 Desember 2026 diusulkan oleh Ketua PWI Sulsel dan Ketua Dewan Kehormatan (DK) Provinsi Sulawesi Selatan perihal diskualifikasi dan pencabutan hak pilih dengan alasan yang bersangkutan telah diberhentikan.
Surat dengan Nomor : 304/PWI – SS/I/2026 yang ditanda tangani bersama Ketua PWI Sulsel dan Ketua DK Provinsi Sulsel ini juga sangat janggal, karena belum pernah terjadi dalam administrasi organisasi.
Surat tersebut sangat bertentangan dengan surat rekomendasi Dewan Kehormatan PWI Pusat kepada Ketua PWI Pusat, Nomor : 39/DK-PWI/2022 tertanggal 9 Mei 2022, dimana pada point 3 berbunyi terhadap saudara Anwar Sanusi sebagai anggota PWI Sulsel, oleh Dewan Kehormatan Pusat menyatakan belum pernah ada rekomendasi sanksi pemecatakan dan SK pemberhentian kepada yang bersangkutan, maka secara organisasi Anwar Sanusi masih berstatus anggota PWI.
Yang lebih patal lagi, tanda tangan Ketua PWI Sulsel, Agussalim Alwi Hamu tidak sah karena yang bersangkutan sudah diangkat menjadi Wakil Ketua Bidang IT PWI Pusat. Dalam PDPRT PWI, tidak diperbolehkan rangkap jabatan.
PWI DK Pusat,Diminta Cermati
Langkah keliru yang dilakukan Pengurus PWI dan DK Sulsel kembali mencoreng dan menjadi topik pembahasan yang harus dicermati secara seksama oleh Pengurus PWI Pusat dan Dewan Kehormatan (DK) Pusat, Dewan Penasehat, bahkan Dewan Pers.
Menurut Anwar Sanusi, 5 tahun terakhir kepengurus Zulkifli Gani Ottoh, beraroma bumbu tidak sedap sudah tercium di dapur organisasi. Disusul kemudian periode ke dua Agussalim Alwi Hamu.
Dikepengurusan keduanya, terjadi kriminalisasi dan memenjarakan seorang anggota PWI bernama Abdul Kadir Sijaya yang mendekam selam 5 bulan dalam bui rutan Makassar yang pada akhirnya oleh Hakim diputus bebas.
Saudara Arianto Amama dilapor di Polres Parepare atas dugaan pencemaran nama baik organisasi yang juga kasusnya tidak dapat dilanjutan karena tidak terpernuhi unsurnya.
Pelaporan wartawan senior ” Andi Tonra Mahie ” oleh Zulkifli Gani Ottoh, SH, atas dugaan pencemaran nama baik di Polrestabes Makassar lagi-lagi tidak berlanjut. Semua kasus pelaporan hingga saat ini belum dicabut atau di SP3 kan.
Konferensi Provinsi tahun 2021 yang dilaksanakan di tengah wabah Covid- 19 yang mensahkan Agussalim Alwi Hamu secara aklamasi, dimana sebelum konferensi berlangsung, Andi Nurhayana Kamar, menyatakan mundur dari pencalonan karena konferensi tersebut dinilai tidak sesuai mekanisme organisasi.
Akibatnya terjadi gugatan yang dilakukan para wartawan senior. Kasus ini berjalan beberapa bulan dan diputus NO (Niet Ontvankelijke Verklaard) oleh Pengadilan Negeri Makassar.
Drama Kolosal Kembali Dipertontonkan
Sebagai anggota dan wartawan yang sudah mengelola koran sendiri sejak 2007 hingga kini, dan media online sejak tahun 2018, sebetulnya Anwar Sanusi sudah tidak tertarik lagi dengan segala macam persoalan di tubuh PWI Sulsel.
Namun karena kecintaan dan keinginan disertai keperihatinan, Anwar Sanusi merasa terpanggil. Terlebih setelah dia kembali terdzolimi oleh pengurus yang dia anggap kurang peka terhadap masalah.
Dia mengakui, dirinya bukan anggota dan wartawan yang hebat, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa selama dirinya bergabung di PWI Sulsel banyak prestasi yang dipersembahkan. Dan menurutnya juga tidak numpang hidup di organisasi.
Drama kolosal yang dipertontonkan PWI Sulsel saat ini kembali menyulut api di tangan sendiri. Anwar Sanusi dengan kekuatan surat sakti rekomendasi DK PWI Pusat, akan melakukan perlawan dan jalur hukum, jika masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh Pengurus PWI dan DK PWI Pusat.
Apa pun konsekwensinya akan dia hadapi, bukan saja demi nama baik, tetapi karena dia tidak ingin ada korban pendzoliman berikutnya.
Dalam sepekan terakhir ini, bermunculan tiga calon kandidat Ketua PWI Sulsel yang bakal meramaikan kontestasi tersebut, masing-masing, H.Suwardi Thahir (Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulsel periode 2021-2026 sekaligus Penguji pada Lembaga Uji PWI), H. Manaf Rahman (Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Sulsel periode sebelumnya) dan juga sebagai Sekretaris OC Konferensi PWI Sulsel, kemudian, Amrullah Basri Gani, Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Fajar.(*).






